Tanggal 07 bulan 07 tahun 2007 rupanya menjadi tanggal yang bersejarah buat pasangan yang ingin melangsungkan pernikahan.. tanggal yang jatuh pada hari sabtu kemarin sangat digemari. Teman kantor gw juga melaksanakan akadnya pada hari itu, begitu juga dengan adik temen nyokap gw.. hihihi… menikah pada hari yang sama…
Pas akad nikah kemarin, penghulu berkata bahwa, pernikahan adiknya temen nyokap gw adalah pernikahan yang ketujuh pada hari itu… semua langsung berkata “Tuhan Maha Besar”.. tentu saja diucapkan dalam kalimat muslim, gw ngga bisa nulisnya.. takut salah… makanya gw translate aja ya…..

Dengan mas kawin seperangkat alat sholat, emas seberat …., dan uang tunai sebesar Rp. 77700,- (coba uang tunainya 77.777 rupiah ya.. kaya si irvan hakim, ngga ada nol nya sama sekali Rp. 7.777.777 ,- keren). Akhirnya dengan mengucapkan kalimat yang disebut dengan ijab kabul, em.. kira – kira begini…
maka berhasil-lah pernikahan tersebut.. ah senangnya…. (WOI !! Salah!! Ijab Kabul Ngga gitu !! errr…. kalo di marahin sama orang-orang sekampung gw ngga tanggung jawab ya..)



Sebenernya meskipun senang.. tapi gw selalu terganggu dengan satu pertanyaan, pasalnya selalu aja ada yang bertanya… made… kapan nikah? errr… berasa kaya di iklan aja gw… sambil makan jalan – jalan terus bilang “MEI”... hihihi…. kapan ya ??? kapan – kapan deh mbah….


jadi kapan?
kabur
Comment by arjuna — July 10, 2007 @ 8:31 am
de…di foto kok lu keliatan kurusan sih…sukses ya dietnya
)
Comment by Blanthik_ayu — July 21, 2007 @ 1:42 pm
ndut, maka nya langsingin perut dulu… biar ada yang mau gitu
Comment by putlie — July 28, 2007 @ 4:27 pm
ya.. sayah jg blm nih .. sbr aj
Comment by putu — July 31, 2007 @ 3:35 pm
lho?? bukannya udah??
Comment by Eka — February 15, 2008 @ 3:52 am
CBS = Cerdas, Berbudaya, Sejahtera???
Menyimak janji-janji kampanye cagub Cok Budi Suryawan (CBS) yang disarikan menjadi Cerdas, Berbudaya, Sejahtera, sangat jauh dari fakta-fakta yang ada selama CBS masih menjabat Bupati Gianyar. Jika CBS mengaku cerdas, maka hal itu bertentangan dengan kenyataan bahwa selama menjadi Bupati Gianyar ia lebih banyak dikendalikan investor dan tidak memiliki inovasi untuk mensejahterakan rakyat. Jika CBS mengaku berbudaya, sangat bertentangan dengan kenyataan bahwa selama menjabat bupati, CBS justru tidak menjunjung Gianyar sebagai kota budaya. Ia sama sekali tidak berusaha membangun gedung kesenian, tetapi malah membangun lapangan sepak bola yang megah yang kemudian ternyata mangkrak. Begitu juga dengan Pembangunan gedung DPRD yang terletak di jantung Kota Budaya Gianyar, terkesan dipaksakan tanpa mengindahkan nilai budaya, etika, tata ruang, dan ergonomi. Pembangunan Balai Budaya pun tidak sesuai konsep budaya Bali. Sedangkan pembangunan pusat pertokoan berlantai 3 yang mematikan perekonomian rakyat dan merusak tatanan budaya dan etika.
Lalu, kalau mengaku Sejahtera, mari kita simak apa yang dilakukan CBS ketika menjadi bupati. Ia malah menyengsarakan masyarakat kecil dengan, misalnya, kerusakan subak dan tidak jelasnya ganti rugi tanah akibat kebijakannya LC waktu CBS jadi bupati. LC sepanjang jalan 20 km di Gianyar itu merusak 11 subak di 4 wilayah. Akibat LC itu juga, hingga kini ganti rugi / penukar tanah hak milik petani tidak jelas; hak milik petani jadi berkurang / hilang; letak/lokasi tanah pengganti hak milik petani tidak/kurang strategis (nilai ekonomis rendah); pemilik baru bermunculan pada lokasi strategis di depan jalan LC “20”. Pemilik semula (petani asal), pada dasarnya terlempar dari lokasi itu; muncul tanah “tanpa tuan”; petani (di hilir) mengalami kesulitan menggarap sawah-ladang karena sistem pengairan rusak; Pura Ulun Siwi tidak lagi memiliki pengempon / krama. Ini juga berarti budaya warisan leluhur menjadi hancur karena penanganan LC semerawut; muncul permukiman di luar sistem; kamtibmas terganggu (konflik antar banjar/desa merebak). Pendek kata, bukan mensejahterakan, sebaliknya menyengsarakan rakyat.
Hal-hal lain yang pantas dicatat adalah:
Pada masa kepemimpinan CBS muncul proyek terminal Kota Gianyar yang mangkrak, sehingga investasi tidur bertahun-tahun. Padahal investasi itu menggunakan uang rakyat;
Pembangunan pusat pertokoan berlantai 3 yang mematikan perekonomian rakyat dan merusak tatanan budaya dan etika;
Stage Sidan dibangun untuk menjadi sekadar “pemanis” terhadap kesenjangan Gianyar Timur dan Gianyar Barat (Ubud dan sekitarnya). Termasuk RPH mangkrak merupakan janji kosong bagi Gianyar Timur.
Satu-satunya yang bisa dinikmati oleh masyarakat Gianyar Timur hanyalah Tempat Pembuangan sampah Akhir (TPA) Temesi yang overload dan menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat. Jadi, selama kepemimpinan CBS, masyarakat Gianyar Timur hanya bisa “menikmati” sampah.
Sekarang baru menjadi kandidat gubernur menjanjikan rakyat 10.000 rumah. Nah subak yang mana akan dihancurkan, lahan pertanian yang mana akan dikorbankan?
Apakah hal-hal tersebut di atas bukan jargon CBS: Cok Bobog Sajan!!
Comment by rah tu — July 2, 2008 @ 4:31 am