Hari Minggu kemarin <25-12-2005> saya menjalankan upacara ngaben untuk saudara sepupu saya nyoman bagus, kami sekeluarga cukup berbahagia karena dia telah berpulang kepadaNya karena selama ini sudah menderita sakit-sakitan yang cukup parah, sehingga beliau bisa terbebas dari penderitaannya selama ini. “Berbahagia”, cukup aneh bukan?? ya tapi itulah makna dari upacara ngaben, kita harus berbahagia karena kita yakin dan percaya semua yang ada didunia ini adalah titipan.
Apa sih ngaben itu? Ngaben adalah upacara pembakaran mayat atau kremasi umat Hindu Bali. (itu yang saya tahu).


Ada sedikit perbedaan upacara ngaben yang diadakan di jakarta dengan di Bali, meskipun tidak berbeda jauh.
- Suasana : Jikalau kita melakukan ngaben di Bali, 2 minggu sebelum hari H semua orang sudah sangat sibuk untuk mengurus upacara tersebut. sedangkan kemarin kita tidak terlalu sibuk, karena semua banten – banten sebagian besar didapat dari membeli yang sudah jadi.
- tata cara : Tentu saja tata cara ngaben ini berbeda, kalau dibali kita akan menemukan orang berbondong-bondong membawa tugu besar dari kayu apa ya namanya?? saya lupa, sedangkan dijakarta cukup dengan banten-banten, karena kalau membawa tugu tersebut tidak memungkinkan karena keterbatasan bantuan dari manusianya sendiri.
- peralatan : Dibali jauh lebih banyak banten, sajen dan keperluan-keperluan lainnya serta tidak lupa pula, lebih banyak makanan yang harus disiapkan mengingat jumlah orang yang membantu sangat banyak hehehe….
- Biaya : Ngejomplang mak krompyang!! ya itulah yang bisa saya katakan, karena waktu kakek saya meninggal (97), kala itu menghabiskan dana yang cukup untuk membeli sebuah Suzuki Escudo 2.0i tahun 2002 (hiks), sedangkan kemarin, hanya 1/3 dari jumlah itu kita bisa melakukan upacara ngaben di jakarta.
Yah, bagaimanapun, sekarang sepupu saya sudah tenang berada disana, semoga saja dia bisa dimudahkan jalannya, mengingat dosa-dosanya saya yakin tidak terlalu banyak dikarenakan selain dia agak terbelakang (ngaruh ngga sich?), dia juga sangat baik (kalo ini pasti berpengaruh) terutama terhadap orang tuanya.
Selamat jalan manggus (begitu saya memanggilnya). Sampai bertemu di kehidupan yang lain.
Lisa, atau saya sering memanggilnya dengan sebutan tante Lisa, selain dia sudah jauh lebih tua dari kita, dia juga sudah mempunyai seorang anak kecil yang sudah
Novee, atau si kriting begitu saya memanggilnya, bawel, blak blakan, apa adanya dan tidak pernah mau kalah dalam apapun juga.. ,namun karena baru mempunyai anak, terkadang kita tidak bisa berbuat banyak kalo lagi mau jalan. Jadi dia jarang bersama kita kecuali kepepet.
Adisya, ini yang paling muda diantara tante – tante diatas. Dia selalu menganggap dirinya sebagai J-Lo, tapi ya itulah, saya tidak pernah menganggapnya demikian. Saya selalu beranggapan bahwa dia adalah salah seorang tante yang selalu setia menemani saya hehehe…....
Madecenik, eh ini saya…. ya inilah saya.. kalem, lembut, ramah dan tidak sombong halah, maaf saya tidak mau banyak berkomentar tentang diri saya sendiri, biarkan orang yang menilai.
Anan, pria bertubuh agak langsing ini tidak pernah mau dipanggil kurus. Entah kenapa, padahal saya sendiri ingin sekali kurus, walaupun
Dhoni, anak yang kalem.. tidak banyak berbicara namun bisa menghangatkan kita semua apa seeh.
